Pentingnya Kolaborasi Jangka Panjang untuk Jaga Industri Minuman Kemasan di Indonesia

0
17
Reporter: Rommy Yudhistira

Industri makanan dan minuman nasional, khususnya minuman kemasan, disebut masih menjadi tulang punggung sektor manufaktur. Industri tersebut juga menopang konsumsi domestik di tengah tekanan ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian geopolitik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kuartal I/2026, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB nasional dengan porsi 19,07%. Sub-sektor makanan dan minuman menyumbang 7,31% terhadap PDB nasional.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan, pemerintah terus memberikan dukungan terhadap ekosistem industri makanan dan minuman.

Selain itu, kata Merri, pemerintah pun berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor makanan dan minuman. Juga terus memperkuat sinergi bersama pelaku usaha, sehingga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan pekerjaan dapat terjaga.

“Sektor industri pengolahan berkontribusi sekitar 19% terhadap PDB nasional pada Triwulan I/2026, dengan industri makanan-minuman sebagai sub-sektor utama penopang pertumbuhan manufaktur nasional. Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh,” kata Merri dalam keterangan resminya di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (4/6).

Baca Juga :   Tony Wenas: Peradaban, Masa Depan dan Adaptasi Teknologi Digital di Pertambangan

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (Asrim) Triyono Prijosoesilo menambahkan, industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 6,38% pada 2025. Kendati demikian, pertumbuhan tersebut berada di bawah level pra-pandemi yang menyentuh kisaran 7%-9%.

“Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I/2026 masih banyak ditopang belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadhan, Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat,” kata Triyono.

Sebagai pelaku industri, kata Triyono, Asrim menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang untuk menjaga ketahanan industri minuman kemasan di Indonesia. Untuk itu, Asrim mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk dalam pengaturan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha.

“Asrim mengedepankan dialog konstruktif bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi berbagai kebijakan industri, termasuk cukai dan bea masuk, demi menjaga stabilitas industri, keberlanjutan investasi, dan perlindungan tenaga kerja nasional,” tutur Triyono.

Melihat kondisi itu, peneliti senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Muhammad Ishak Razak mengatakan, meski menunjukkan ketahanan makro, kualitas pertumbuhan industri di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Apalagi industri juga tengah menghadapi pelemahan daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga :   Ikappi Pertanyakan Kinerja Tim Pangan Pemerintah Buntut Kenaikan Beberapa Komoditas

Ishak menyebutkan, pertumbuhan industri makanan dan minuman yang ditopang dari momen Ramadhan dan Lebaran, masih dibayangi tantangan struktural seperti, pelemahan rupiah yang saat ini menembus level psikologis Rp 18 ribu per dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan biaya produksi, dan tekanan inflasi. Karena itu, dinamika pasar membutuhkan perhatian khusus dari para pemangku kepentingan, sehingga daya beli masyarakat dapat tetap terjaga.

“Lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri,” ujar Ishak.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics