Legislator Ingatkan agar Magang Nasional Tak Berhenti di Pengalaman, tapi Jadi Jembatan Dapatkan Pekerjaan Layak
Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Aher/Iconomics
Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher mengingatkan agar pelaksanaan “Magang Nasional Batch 2” benar-benar menjadi jembatan bagi fresh graduate untuk memasuki dunia kerja. Karena itu, program “Magang Nasional” diminta jangan hanya sekadar menambah pengalaman peserta di dalam CV.
Menurut Netty, program yang dijalankan pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan tersebut relevan untuk menjawab persoalan kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti program.
“Magang memang penting untuk memberikan pengalaman kerja kepada fresh graduate. Tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan pengalaman,” kata Netty pada Kamis (3/9).
“Yang lebih penting adalah apakah pengalaman tersebut benar-benar meningkatkan kompetensi dan membuka jalan menuju pekerjaan yang layak.”
Adapun “Magang Nasional” merupakan program yang diselenggarakan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Program ini memberikan kesempatan bagi fresh graduate untuk merasakan pengalaman bekerja dengan gaji pantas selama kurang lebih 6 bulan.
Terdapat beragam pilihan tempat magang yang tersedia. Mulai dari perusahaan pemerintah seperti kementerian dan lembaga, hingga perusahaan-perusahaan besar swasta.
Saat ini, Kemnaker membuka “Magang Nasional” atau “Magang Hub Batch 2” angkatan 2 yang pendaftaran dimulai dari 3 hingga 8 September 2026. Lowongan magang ini bisa dicoba oleh para lulusan diploma, sarjana, maupun profesi (fresh graduate). Selain itu, peserta yang gagal pada batch sebelumnya bisa mencoba kembali daftar pada kesempatan ini.
Terkait hal tersebut, Netty meminta pemerintah memastikan peserta mendapatkan pengalaman yang relevan dengan kompetensi, pendampingan, serta pembelajaran yang nyata selama menjalani magang.
Dengan begitu, program magang tidak berubah menjadi cara memperoleh tenaga kerja untuk pekerjaan rutin tanpa memberikan peningkatan kompetensi bagi peserta.
“Jangan sampai kita hanya menyelesaikan persoalan ‘belum punya pengalaman kerja’, tetapi setelah magang selesai mereka kembali menghadapi persoalan yang sama, yaitu sulit mendapatkan pekerjaan,” tegas Netty.
Oleh karenanya, anggota Komisi Ketenagakerjaan DPR ini mendorong agar evaluasi “Magang Nasional” tidak berhenti pada berapa banyak peserta yang diterima dan menyelesaikan program. Netty menilai program Magang Nasional juga harus mampu melihat berapa banyak peserta yang memperoleh pekerjaan setelah magang, kesesuaian pekerjaan dengan kompetensi, serta keberlanjutan mereka di dunia kerja.
“Ukuran keberhasilan program harus sampai pada outcome. Berapa yang setelah magang diterima bekerja? Apakah pekerjaannya sesuai kompetensi? Dan apakah mereka mampu bertahan dalam pekerjaan tersebut?” jelasnya.
Netty juga menekankan pentingnya aspek perlindungan peserta Magang Nasional. Ia mengingatkan, peserta magang tetap harus mendapatkan lingkungan kerja yang aman, jam kerja yang wajar, pendampingan, serta mekanisme pengaduan apabila terjadi persoalan selama program.
“Fresh graduate jangan hanya dilihat sebagai penerima manfaat program, tetapi juga sebagai generasi pekerja yang sedang memasuki dunia kerja. Mereka membutuhkan pengalaman, tetapi juga membutuhkan perlindungan dan kepastian arah setelah program selesai,” papar Netty.
Netty berharap “Magang Nasional” dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih besar untuk mengatasi skill mismatch dan memperkuat transisi dari pendidikan menuju pekerjaan.
“Magang 6 bulan bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah semakin banyak anak muda yang memiliki kompetensi dan mendapatkan pekerjaan yang layak,” sebut politisi PKS itu.
“Jangan sampai pengalaman bertambah, tetapi kesempatan kerjanya tetap tidak bertambah,” pungkas Netty.