Strategi Komunikasi Berdampak Harus Berangkat dari Isu, Bukan Sekadar Konten

0
165

Co-founder and Communications Strategist Reputasia, Fardila Astari, menegaskan bahwa strategi komunikasi yang berdampak tidak lahir dari pesan yang paling keras atau slogan yang menarik, melainkan dari pemahaman mendalam terhadap isu dan masalah yang sesungguhnya dihadapi publik.

“Kalau kita bicara soal impactful communication strategy, then you have to know the issues first. You have to understand the real problem first. Because if we don’t understand the problem and the issue behind it, how can we design communication that actually matters,” ujar Fardila dalam acara “THE FACE OF INDONESIA: Making Impactful Communication Strategy” yang digelar oleh Iconomics, Rabu (17/12).

Menurutnya, dampak komunikasi tidak ditentukan oleh seberapa lantang pesan disampaikan, melainkan oleh ketajaman diagnosis. Strategi yang tepat hanya dapat lahir dari insight audience yang akurat dan intervensi komunikasi yang relevan.

Ia menekankan bahwa strategi komunikasi tidak bisa dimulai dari produksi konten atau penciptaan slogan. “Tetapi harus dimulai dulu dari menyadari isunya itu apa. Kemudian paham dulu masalahnya,” kata Fardila.

Dalam konteks organisasi dan kementerian, ia menyebut jumlah isu yang muncul bisa mencapai ratusan dalam satu tahun. Namun, kemampuan memilih isu yang paling krusial justru menjadi kecerdasan tersendiri. Meski data kerap disebut sebagai “new mining”, Fardila mengingatkan bahwa data tanpa analisis tidak akan bermakna.

“Kemampuan berpikir itu tidak hadir sekaligus. Tetapi itu tumbuh melalui latihan sadar dan refleksi yang terus menerus. Intinya, critical thinking itu adalah disiplin, buka talent,” tegasnya.

Baca Juga :   Untuk Mempertanggungjawabkan Setiap Sen yang Dibelanjakan PUPR

Fardila memaparkan bahwa banyak individu dan organisasi masih berada pada tahap unreflective thinker, yakni menerima informasi secara reaktif, merasa sudah benar, dan tidak menguji asumsi yang ada. Sayangnya, mayoritas orang berhenti di tahap ini sepanjang hidupnya.

“Kita tidak mau dong jadi unreflective thinker. Kita maunya jadi apa? Accomplished thinker, di mana berpikir kritis ini menjadi second nature-nya kita. Jadi, cara berpikirnya konsisten, etis dan matang, baik dalam keputusan profesional maupun sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, individu pada level accomplished thinker jumlahnya sangat sedikit karena membutuhkan latihan sepanjang hayat. Namun justru tipe pemikir inilah yang sangat dibutuhkan di kementerian, lembaga, dan institusi publik untuk merespons persoalan secara tepat, bukan instan.

Berbicara tentang tantangan ke depan, Fardila menyoroti sejumlah isu besar yang akan berdampak signifikan pada 2026. Salah satunya adalah peran AI yang semakin dominan dalam komunikasi bisnis, mulai dari penyusunan konten, layanan pelanggan, hingga pengambilan keputusan.

Selain itu, ia mengingatkan ancaman krisis kepercayaan dan industrialisasi misinformasi. Menurutnya, AI memungkinkan produksi massal konten palsu, baik suara, video, maupun teks, dengan kualitas tinggi dan biaya murah, yang berpotensi mengancam institusi publik dan sektor keuangan. Namun, yang paling dirugikan adalah masyarakat.

Baca Juga :   KSP Ajak Media Massa Kawal Stabilitas di Tahun Politik, Ini Jawaban PWI Jaya

Tantangan berikutnya adalah pergeseran fokus dari sekadar reach atau jangkauan ke trust. Berdasarkan survei praktisi komunikasi, persoalan utama pada 2026 bukan lagi exposure, melainkan bagaimana membangun kepercayaan yang terukur sebagai modal reputasi.

Dalam praktik kehumasan, Fardila juga menyinggung munculnya Generative Engine Optimization (GAO) yang diprediksi akan menggantikan SEO konvensional. Visibilitas merek ke depan ditentukan oleh seberapa sering brand disebut sebagai rujukan kredibel dalam ekosistem model generatif, bukan semata-mata oleh keyword atau backlink.

Ia juga menegaskan bahwa konsep golden hour dalam krisis komunikasi telah hilang.

“Respon pertama harus muncul dalam hitungan menit. Jadi, nggak bisa lagi menunggu lama. Begitu ada yang namanya krisis, itu harus cepat ada klarifikasi, respon dalam hitungan menit. Kalau tidak, ruang akan diisi oleh hoax, fake video dan framing pihak lain,” ujarnya.

Terkait pemilihan kanal komunikasi, Fardila mengingatkan bahwa strategi media di Indonesia sangat beragam secara sosial ekonomi. Kelompok A dan B cenderung aktif di media sosial, sementara kelompok C, D, dan E masih mengandalkan tokoh lokal, penyuluh lapangan, televisi, radio, hingga media cetak sederhana seperti brosur.

“Ini yang kita selalu ignore, kita merasa bahwa dengan sudah masuk ke social media, itu artinya kita sudah berkomunikasi,” katanya.

Ia mengkritisi ketergantungan berlebihan pada media dan social media monitoring yang dinilai hanya menangkap sebagian suara publik.

Baca Juga :   Resmi Dilantik Jadi Kepala dan Wakil Kepala Otorita IKN, Ini Penjelasan Bambang dan Dhony

“Kalau kita menggunakan media dan social media monitoring, itu hanya menangkap sebagian saja dari seluruh rakyat Indonesia. Ayo mari kita pikirkan bagaimana menangkap data dari kelas C, D, E,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong kolaborasi dengan universitas di seluruh Indonesia untuk menjangkau data dari kelompok C, D, dan E.

“Saat ini saya sampaikan, tidak ada lagi kata low budget high impact. Itu tidak realistis dalam situasi seperti ini. Dalam diverse komunikasi yang luar biasa, karena banyak channel komunikasinya, tidak bisa lagi namanya low budget high impact. High budget high impact, karena TV pun mahal,” ujarnya.

Fardila menegaskan bahwa televisi masih menjangkau kelompok masyarakat C, D, dan E, sehingga tidak bisa lagi disisihkan dari strategi komunikasi. Menurutnya, fungsi utama komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun pemahaman. Dari pemahaman itulah lahir penerimaan, kepercayaan, hingga perubahan perilaku dan pola pikir.

Ia mengingatkan, ketika organisasi hanya berhenti pada penyampaian informasi, publik berpotensi tidak memahami pesan dan tidak merasa terhubung. Hal ini terjadi karena pesan disampaikan tanpa upaya untuk benar-benar dipahami oleh audiens.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics