Pupuk Indonesia Targetkan Perampingan Anak Usaha Jadi 17 di 2026 dan 15 Entitas di 2027

0
38
Reporter: Rommy Yudhistira

Pupuk Indonesia menargetkan perampingan struktur perusahaan, dari total 57 entitas menjadi 17 entitas pada akhir 2026. Pengurangan anak usaha pun akan dilakukan kembali menjadi 15 entitas pada 2027.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengatakan, transformasi itu dilakukan dengan membentuk struktur bisnis yang lebih fokus pada 3 sub-holding utama yakni agrichemicalindustrial chemical, dan clean ammonia. Strategi itu akan didukung oleh Feedstock Co. sebagai pengelola pasokan bahan baku strategis.

Dengan struktur baru, kata Dony, Pupuk Indonesia dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat sinergi antar-lini usaha, dan mengoptimalkan pengelolaan aset, serta sumber daya perusahaan.

Dony menambahkan, kehadiran 3 sub-holding itu juga akan memperjelas fokus pengembangan setiap lini bisnis, sehingga mampu mendukung pertumbuhan usaha yang terarah, dan berkelanjutan.

“Penyederhanaan entitas akan memperkuat fokus bisnis dan meningkatkan efektivitas pengelolaan perusahaan,” ujar Dony dalam keterangan resminya pada Rabu (3/6).

Selain meningkatkan efisiensi, kata Dony, transformasi ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Pupuk Indonesia di sektor pupuk, dan petrokimia. Juga diharapkan mampu membuka peluang pengembangan bisnis baru, yang sejalan dengan kebutuhan industri di masa depan.

Baca Juga :   Tim Ekonom Bank Mandiri Perkirakan Laju Pertumbuhan Ekonomi 2022 Berkisar 5,17%

Adanya dukungan Feedstock Co. sebagai pengelola pasokan bahan baku, kata Dony, menjadi elemen penting dalam memastikan integrasi rantai pasok, dan keberlangsungan operasional perusahaan.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics