Belanja Negara Lebih Lambat, Hingga April Postur APBN 2025 Surplus Rp4,3 Triliun

0
68

Realisasi belanja negara hingga 30 April 2025 relatif lebih lambat. Sementara akselerasi penerimaan negara jauh lebih cepat. Sehingga, postur APBN 2025 pun mengalami surplus.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan hingga 30 April, realisasi penerimaan negara telah mencapai Rp810,5 triliun atau 27% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2025 yang sebesar Rp3.005,1 triliun.

Rinciannya, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp557,1 triliun atau 25,45% dari target penerimaan pajak tahun ini yang sebesar Rp2.189,3 triliun.

Sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp100 triliun atau 33,1% dari target Rp301,6 triliun di dalam Undang-Undang APBN.

Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp153,3 triliun atau 29,8% dari target APBN tahun ini.

“Di sini terlihat sudah terjadi akselerasi pendapatan negara terutama untuk pajak,” ujar  Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita edisi Mei 2025, Jumat (23/5).

Bila akselerasi penerimaan negara lebih tinggi, sebaliknya realisasi belanja negara masih relatif lebih lambat.

Sri Mulyani memaparkan hingga 30 April, pemerintah telah merealisasikan belanja sebesar Rp806,2 triliun, atau baru mencapai 22,3% dari total belanja negara yang ditetapkan dalam APBN 2025 yang sebesar Rp3.621,3 triliun.

Baca Juga :   Kinerja APBN Tetap Positif di Tengah Tantangan Global yang Masih Berat

Komponen belanja tersebut terdiri atas, realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp546,8 triliun atau 20,2% dari target. Dari realisasi belanja pemerintah pusat tersebut, realisasi belanja Kementerian dan Lembaga mencapai Rp253,6 triliun atau 21,9% dari target. Sementara, realisasi belanja non Kementerian/Lembaga  mencapai Rp293,1 triliun atau 19%  dari target.

Komponen belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD), hingga 30 April, terealisasi sebesar Rp259,4 triliun atau 28,2% dari target.

“Karena kecepatan pendapatan negara…mendekati 30% dari target, sedangkan belanja negara masih di sekitar 22%  kita lihat postur APBN akhir April mencatatkan surplus,” kata Sri Mulyani.

Hingga 30 April, total surplus APBN mencapai Rp4,3 triliun atau 0,02% dari PDB. Dalam APBN 2025, APBN dirancang defisit sebesar Rp616,2 triliun.

Sementara untuk keseimbangan primer, yaitu selisih antara total pendapatan negara dengan belanja negara,  tidak termasuk pembayaran bunga utang, hingga 30 April tercatat surplus  Rp173,9 triliun.

Sampai dengan akhir April, Pemerintah telah merealisasikan pembiayaan negara sebesar Rp279,2 triliun atau  45,3% dari target pembiayaan yang ada di dalam UU APBN yaitu Rp616,2 triliun.

Baca Juga :   Wakil Ketua Komisi VIII: Generasi Muda Perempuan Berperan Penting Majukan Demokrasi

“Kalau kita lihat (baru) empat bulan, tetapi (realisasi pembiayaan sudah mencapai) 45%, itu berarti pembiayaan anggaran relatif front loading, lebih maju,” kata Sri Mulyani.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics