Kepercayaan Publik Dinilai Jalan untuk Bangun Reputasi Organisasi atau Perusahaan
Kepercayaan publik (trust) menjadi pintu masuk untuk membangun reputasi organisasi atau perusahaan. Kepercayaan pun menjadi fondasi utama dalam membentuk suatu brand atau mendukung kelancaran bisnis.
Soal ini, menurut Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia (PAFI) Agung Laksamana, dalam dunia public affairs kepercayaan berperan strategis untuk mengelola hubungan dengan para pihak. Karena itu, insan public affairs perlu memahami bagaimana mengelola kepercayaan dalam suatu organisasi atau perusahaan.
Agung mengatakan, dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey menjelaskan secara gamblang bagaimana cara mengukur kepercayaan. Dalam buku itu khususnya kepercayaan, Covey menganalogikan tragedi 911 yang terjadi di World Trade Center, Amerika Serikat.
Kejadian itu, tambah Agung, membentuk ketidakpercayaan yang tinggi terhadap maskapai penerbangan dan bandara. Peristiwa tersebut pun membentuk cara baru dalam memeriksa penumpang saat ingin melakukan perjalanan.
“Akhirnya karena trust-nya tidak ada, jadi speed-nya (pelayanan) jadi lama. Cost-nya jadi tinggi. Jadi kalau trust-nya tinggi, akhirnya speed-nya bisa lebih cepat, dan cost-nya lebih rendah,” kata Agung dalam pembukaan acara Training PAFI di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (28/7).
Selain kepercayaan, kata Agung, insan public affairs perlu memiliki kemampuan visibilitas. Sebab, visibilitas bukan sekadar memperkenalkan citra, tetapi juga untuk mendapatkan pengakuan dari pemangku kepentingan.
“Semua arahnya ke sana. Kita sekarang sudah di bulan Juli (2026). Kita lihat nanti semua pergerakan komunikasi dari Juli hingga Februari 2029, mungkin dari cabinet settlement, government performance seperti apa. Semua ekosistem komunikasi saat ini digiring menuju 2029. Visibility adalah tujuan,” ujar Agung.
Kemudian, kata Agung, Lalu, komunikasi publik dan kepercayaan menjadi hal yang penting bagi insan public affairs dalam menjaga hubungan baik, keterbukaan, dan mendukung kebijakan yang berlaku,
Komunikasi publik di era sekarang ini, kata Agung, perlu dilakukan secara terus menerus. Sebab, jika komunikasi publik terputus, maka berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan. Dalam menerapkan komunikasi publik, insan public affairs perlu menyampaikan secara terbuka, bijak, berbasis bukti, dan mampu menjadi penghubung.
“Jadi komunikasi publik, kontinuitas kehadiran, harus ada kehadiran, relevan, dan tanpa henti. Komunikasi publik tidak sama dengan informing. Begitu tidak visible, Anda tidak relevan,” tutur Agung.