Generasi Muda Mau Beli Rumah? Simak Tipsnya

0
393

Harga rumah semakin tinggi dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, butuh perhitungan yang matang sejak awal sebelum memutuskan beli rumah. Mulai dari perhitungan biaya yang mau disiapkan hingga kapan waktu untuk membelinya. Apalagi, melihat fakta harga rumah di kawasan kota besar semakin lama semakin mahal. Bahkan di beberapa lokasi strategis Jakarta harganya sudah menyentuh angka miliaran rupiah.

Belum lama ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menyampaikan bahwa generasi muda akan makin sulit mempunyai rumah karena mahalnya harga lahan dan risiko kenaikan bunga yang menyebabkan harga rumah yang tidak sebanding dengan pendapatan.

Berikut ini paparan mengenai tips-tips membeli rumah yang cocok buat generasi muda dari Co-Founder Lifepal.co.id Benny Fajarai.

Pertama, tentukan berapa besar budget untuk beli rumah. Harga rumah itu bervariasi, tergantung dari lokasi, luas bangunan, dan luas tanah. Lokasi yang strategis tentunya menjadi faktor pendorong mahalnya harga rumah walaupun luas bangunan dan tanahnya tidak terlalu lebar.

Dengan melakukan pertimbangan seksama, kamu dapat memastikan budget yang sesuai dengan anggaran yang kamu miliki sehingga harga rumah incaran tersebut sesuai terhadap kemampuan daya beli.

Baca Juga :   bjb Kembali Menjadi Penyalur KPR Sejahtera FLPP dan Tapera Tahun 2023

Kedua, apakah belinya dengan KPR atau cash? Kenaikan harga rumah yang cukup tinggi tiap tahunnya juga jadi pertimbangan bagaimana cara membeli rumah. Apalagi persentase kenaikan harga rumah itu lebih tinggi ketimbang persentase kenaikan gaji. Karena itu cara memberi rumah secara KPR ataupun cash patut dipertimbangkan. Sebab kalau sampai salah memutuskan, rencana beli rumah bisa gagal.

Jika membeli dengan KPR, kelebihannya adalah konsumen bisa membeli rumah dengan dicicil. Namun, KPR memiliki kekurangan, yaitu cicilan yang dibayar tidak selamanya sama besarannya, tergantung pada perubahan suku bunga acuan BI. Kemudian total keseluruhan uang buat cicil rumah hingga lunas lebih besar ketimbang beli rumah secara tunai.

Sementara kalau membeli rumah secara cash, kelebihannya Anda tidak bakal terbebani utang. Tetapi kekurangan membeli secara cash adalah pengumpulan dananya bakal bikin Anda mengorbankan beberapa alokasi pengeluaran demi bisa mengejar waktu beli rumah sebelum nantinya naik.

Ketiga, kelola pengeluaran dengan baik. Baru mulai bekerja memang banyak godaannya. Mulai dari ingin belanja kebutuhan fashion, perlengkapan bekerja, hingga skincare. Nah jika Anda ingin tujuan membeli rumah terwujud dalam waktu dekat, usahakan batasi pengeluaran tidak penting dan alihkan ke tabungan. Tahan setiap godaan diskon yang ada. Jaga keuangan tetap baik meski harus ada yang dikorbankan.

Baca Juga :   Rata-rata Harga Rumah di Depok Naik 9,98% di Tahun 2022

Keempat, alokasikan 30% gaji untuk ditabung, investasi, serta perlindungan asuransi. Karena beli rumah membutuhkan dana yang besar, konsumen muda harus benar-benar alokasikan besaran dananya dengan tepat. Alokasi dana buat tabungan, investasi dan asuransi itu besaran idealnya 20% per bulan.

Namun, dalam rencana membeli rumah, ada baiknya alokasinya ditingkatkan menjadi 30% tiap bulan. Besaran tersebut awal-awal ditujukan buat mengumpulkan dana darurat yang besarnya sekitar 6–9 kali gaji bulanan. Dana tersebut perlu digunakan untuk memiliki asuransi seperti asuransi jiwa, asuransi kesehatan maupun asuransi kendaraan untuk menghindari resiko dan dana-dana tidak terduga lainnya.

Benny menambahkan bahwa saat ini rumah juga dapat dilindungi melalui proteksi asuransi, meski saat ini masyarakat belum terlalu familiar dengan asuransi rumah. “Tak hanya kendaraan dan kesehatan saja yang harus dilindungi, rumah juga harus mendapatkan perlindungan karena sama-sama memiliki risiko yang besar. Membeli rumah membutuhkan dana yang besar, tentunya juga perlu dilindungi oleh Asuransi agar pemilik rumah memiliki peace of mind dan lebih nyaman saat tinggal di rumah dengan perlindungan asuransi,” kata Benny dalam keterangan resmi.

Leave a reply

Iconomics