Erupsi Anak Krakatau Jadi Alarm, Legislator Ingatkan Pentingnya Bandara Kertajati Tak Hanya Jadi MRO
Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin/Kompas.com
Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menyoroti penutupan sejumlah bandara imbas abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, khususnya Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma. Dengan kondisi itu, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka seharusnya dipertahankan sebagai bandara internasional untuk mengantisipasi peristiwa seperti ini.
Menurut TB Hasanuddin, Bandara Kertajati perlu menjadi bagian dari infrastruktur strategis nasional. Hal ini mengingat posisi Kertajati yang berada di tengah Jawa Barat dapat menjadi alternatif apabila Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan bandara di Jakarta tidak dapat beroperasi akibat kondisi tertentu.
“Bandara Kertajati berada di tengah-tengah Jawa Barat dan dapat menjadi alternatif strategis apabila bandara-bandara di Jakarta tidak dapat digunakan,” kata TB Hasanuddin pada Senin (7/9).
Seperti diketahui, sejumlah bandara ditutup buntut erupsi Gunung Anak Krakatau karena abu vulkaniknya berpotensi mengganggu penerbangan. Beberapa bandara yang ditutup di antaranya Bandara Soekarno-Hatta (CGK) Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) Jakarta, Bandara Radin Inten II (TKG) Lampung, dan Bandara Husein Sastranegara (BDO).
Abu vulkanik yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau juga menyebabkan sejumlah penerbangan terganggu, termasuk penerbangan dari dan ke luar negeri. Diketahui, abu vulkanik memang memiliki dampak kerusakan bagi mesin pesawat hingga menyebabkan mesin mati.
Terkait hal ini, TB Hasanuddin menilai diperlukan alternatif bandara untuk mendukung transportasi udara di wilayah Jakarta jika kondisi memburuk.
“Peristiwa seperti ini bisa terjadi kembali. Karena itu, kita harus memiliki bandara alternatif yang dapat diandalkan,” tuturnya.
Oleh karena itu, TB Hasanuddin meminta agar rencana Pemerintah menjadikan Bandara Kertajati sebagai Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) untuk kepentingan Amerika Serikat dikaji kembali.
“Kalau benar ada rencana Kertajati dijadikan MRO demi kepentingan Amerika, tentu harus dipertimbangkan kembali karena kepentingan strategis Indonesia harus menjadi prioritas,” tegas TB Hasanuddin.