Pengacara Yaqut Bongkar Asal Kuota Haji 20.000, Dito Ariotedjo Disebut Hadir Saat Jokowi ke Saudi
Suasana persidangan "kuota haji tambahan" di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026)/Dok. Iconomics
Pengacara terdakwa kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2023–2024, Yaqut Cholil Qoumas, Mellisa Anggraini mencecar saksi mantan Direktur Bina Umrah dan Haji Kementerian Agama (Kemenag), Jaja Jaelani mengenai proses permintaan hingga pemberian kuota haji tambahan 20.000 pada 2024. Dalam persidangan, Mellisa, awalnya menanyakan siapa pihak yang meminta kuota tambahan haji pada 2023 dan 2024.
“Baik. Untuk haji 2023, Pak, itu yang meminta ya. Kalau kuota tambahannya harus diminta atau tiba-tiba bisa diberikan, Pak? Atau dua-duanya?” tanya Mellisa kepada Jaja saat dihadirkan sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (03/09/2026).
“Tahun 2023 saya belum di situ, Bu,” kata Jaja menjawab Mellisa.
Tak berhenti disitu, Mellisa pun kembali mengorek keterangan Jaja lebih jauh perihal pengetahuannya soal kuota tambahan haji itu.
“Tapi Bapak tahu tidak ada kuota tambahan tahun 2023?” tanya Mellisa lebih jauh.
“Ada dapat 8.000 kalau nggak salah,” jawab Jaja.
Mellisa pun lantas menanyakan kepada Jaja, siapa pihak yang meminta kuota haji tambahan itu, dan dijawab oleh Jaja. “Saya tidak tahu. Tidak mengikuti itu,” bebernya.
Mellisa pun kemudian beralih menanyakan proses pengajuan kuota tambahan pada 2024, saat Jaja sudah berada di lingkungan Kementerian Agama.
“Tidak mengikuti. 2024 Bapak sudah ada, ya?” ucap Mellisa melanjutkan.
“Iya, siap,” jawab Jaja.
Mellisa pun kembali mengejar lebih dalam perihal siapa pihak yang meminta kuota tambahan haji itu. “Yang meminta siapa,” tanya Mellisa.
“Dari Indonesia, Bu,” jawab Mellisa.
Mellisa pun lantas mempertegas Indonesia yang dimaksud Jaja itu. “Indonesia itu siapa? Menteri Agama? tanya Mellisa dengan penekanan.
“Pak Menteri Agama,” jawab Mellisa.
Mellisa kemudian mengonfirmasi keterangan tersebut dengan isi berita acara pemeriksaan (BAP) Jaja yang menyebut Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebagai pihak yang meminta kuota tambahan.
“Tahun 2024? Bukan Pak Presiden (Jokowi-red) seperti BAP-nya saksi ini? tanya Mellisa lagi.
“Nah, Presiden yang meminta atas usul dari Menteri Agama (Yaqut Chollil Qoumas-red),” jawab Jaja.
“Gimana, Pak? Nggak jelas,” timpal Mellisa.
“Usul Menteri Agama (Gus Yaqut-red) kepada Presiden (Jokowi-red) untuk Presiden yang mengusulkan kepada Arab Saudi, Pak… eh, Bu, gitu,” kata Jaja menjelaskan.
Namun, ketika ditanya sumber pengetahuannya mengenai adanya usulan Menteri Agama untuk kuota tambahan 20.000, Jaja justru mengaku mengetahuinya dari media sosial. Mellisa pun kembali mengejar keterangan Jaja tersebut.
“Bapak dapat pemahaman atau pengetahuan dari mana bahwa kuota tambahan 20.000 itu usulan dari Menteri?” tanya lagi Mellisa.
“Itu di media sosial saat kunjungan Presiden ke Arab Saudi, Bu,” jelas Jaja.
Mellisa pun kembali mengejar jawaban yang diberikan Jaja, mengenai maksud dari pernyataan itu dan menjawab. “Iya, maksud saya begini, saat Presiden berkunjung ke Arab Saudi, di media sosial sudah ramai bahwa akan ada kuota tambahan,” bebernya lagi.
Mellisa kemudian menanyakan apakah Menteri Agama ikut dalam kunjungan Presiden ke Arab Saudi tersebut. “Baik. Menteri Agama ikut nggak, Pak, waktu itu?” tanya lagi Mellisa.
“Tidak, tidak ikut,” jawab Jaja.
“Nggak diajak kenapa, Pak? Bapak tahu tidak?” tanya lagi Mellisa
“Saya tidak tahu,” jawab lagi Jaja.
Mellisa pun kembali mengorek kembali kunjungan Jokowi itu dan, nama mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo muncul. Jaja menyebut Dito sebagai salah satu pihak yang hadir dalam kunjungan tersebut.
“Yang hadir siapa lagi, Pak, pada saat meminta kuota itu?” tanya Mellisa.
“Kalau nggak salah Pak Menteri Pemuda dan Olahraga, Bu,” jawab Jaja.
“Pak Menpora? Siapa namanya? Dito Ariotedjo, betul?” tanya lagi Mellisa.
“Iya, Pak Dito,” jawab Jaja.
Mellisa kemudian mengonfirmasi apakah Jaja mengetahui hubungan Dito dengan pemilik travel haji dan umroh PT Maktour Fuad Hasan Masyhur. “Pak Dito ini saksi, tahu juga mantunya dari Pak Fuad, ya?” tanya lagi Mellisa
“Kalau itu saya awalnya belum tahu, Bu,” jawab Jaja.
“Oh, awalnya belum tahu. Baik,” timpal Mellisa.
Selanjutnya, Mellisa menanyakan kapan Kementerian Agama mengetahui bahwa Arab Saudi memberikan tambahan kuota haji sebanyak 20.000 untuk Indonesia.
“Kemudian kuota itu diberikan oleh Saudi 20.000. Kapan Kementerian Agama tahu bahwa, oh, kita dapat kuota 20.000 ini? Kapan?” tanya Mellisa.
“Saat kunjungan Presiden ke sana. Saya lupa tanggalnya, Bu,” jawab Mellisa.
“20 Oktober, Pak?” tanya Mellisa.
“Iya, barangkali,” jawab lagi Jaja.
Mellisa juga kemudian memastikan apakah saat Presiden mengumumkan tambahan kuota tersebut sudah disebutkan bahwa kuota itu diperuntukkan bagi jemaah haji Indonesia.
“Pada saat 20 Oktober Presiden mengumumkan ada kuota tambahan itu, disebutkan tidak, Pak, ini kuota tambahan untuk jamaah haji Indonesia atau seperti apa?” tanya Mellisa.
“Diperuntukkan jemaah haji Indonesia,” jawab Jaja.
“Jemaah haji Indonesia. Seperti yang tadi Bapak bilang? jamaah haji Indonesia ada jamaah haji reguler, ada jemaah haji khusus,” jelas Mellisa.