Tiket.com Nilai Stimulus Diskon Harga untuk Transportasi Dorong Perjalanan Masyarakat di Musim Libur Sekolah
Co-Founder & CMO tiket.com, Founder SweetScope David Soong, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian, Chief Data Officer Lokadata.id/Iconomics
Agen perjalanan daring (OTA) tiket.com menilai pemberian stimulus potongan harga pada beberapa moda transportasi, mampu mendorong tingkat perjalanan masyarakat selama periode libur sekolah (Juni-Juli 2025). Tiket.com mencatat adanya peningkatan kunjungan masyarakat selama musim libur sekolah.
Co-Founder & CMO tiket.com Gaery Undarsa mengatakan, terdapat lonjakan transaksi hingga 54% dibandingkan periode pertengahan tahun 2024. Selama libur sekolah, pemesanan penerbangan naik 38%, akomodasi meningkat 79%, dan perjalanan yang masuk dalam kategori things to do (TTD) meningkat 45%.
“Menurut kami setiap ada stimulus, setiap kali ada kemudahan yang diberikan, itu dampaknya lumayan besar. Dan, sebaliknya juga berlaku, pada saat ada pengetatan, kebalikannya juga berlaku,” kata Gaery dalam sesi diskusi di Midaz Senayan, Jakarta, Rabu (23/7).
Di sisi lain, kata Gaery, pada umumnya setelah musim liburan berakhir, akan terjadi penurunan aktivitas perjalanan. di Indonesia, terdapat 3 musim liburan yakni periode Lebaran, libur sekolah dan akhir tahun, sehingga pada masa itu pula terjadi peningkatan dari sisi kunjungan wisata, dan perjalanan.
Sedangkan di luar negeri, kata Gaery, peak season hanya terjadi pada musim libur sekolah, dan akhir tahun. “Tapi menariknya adalah even low season, kemarin saya lihat itu tetap ada peningkatan dibandingkan tahun lalu. Jadi tidak anjlok minus. At least kalau di tiket.com, kita kelihatannya masih ada peningkatan dari tahun lalu,” ujar Gaery.
Sementara itu, berdasarkan data Lokadata, terjadi peningkatan dalam lanskap pariwisata Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Chief Data Officer Lokadata.id Suwandi Ahmad mengatakan, pada era sebelum pandemi Covid-19 dominasi kunjungan wisata alam dan budaya masih dapat diprediksi dengan baik.
Namun, lanjut Suwandi, hal itu berubah seketika saat Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Suwandi menyebutkan, ada pergeseran tren ke arah konsep liburan yang dilakukan di dalam kota, atau tempat tinggal terdekat (staycation), hingga konser virtual. Kemudian, dari sisi tren belanja, Suwandi mengatakan, masyarakat cenderung memilih belanja melalui sarana daring.
Pasca-pandemi, kata Suwandi, terjadi ledakan besar dari animo masyarakat yang selama pandemi tertahan untuk melakukan aktivitas perjalanan, dan menikmati hiburan di luar ruangan. Fenomena revenge travel itu membuka peluang baru bagi bisnis pariwisata di dalam negeri.
“Menariknya, meski tekanan ekonomi global dan isu finansial domestik, pola pengeluaran untuk pengalaman ternyata tetap bertahan,” ujar Suwandi.