Tahun Ini, Hartadinata Abadi Tbk Bidik Penjualan Emas Hingga 28 Ton dan Pertumbuhan Pendapatan Double Digit 

HRTA menargetkan produksi dan penjualan emas sebanyak 25 ton hingga 28 ton pada tahun ini. Target tersebut meningkat signifikan dibandingkan volume penjualan 7,83 ton pada 2025.
0
39

Meski harga emas saat ini mengalami koreksi setelah mencatat kenaikan signifikan pada tahun lalu dan awal tahun ini, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) tetap optimistis kinerja bisnis perseroan akan tumbuh kuat pada 2026, melanjutkan tren positif yang telah berlangsung pada tahun sebelumnya.

“Target pendapatan, sesuai yang kita sudah sampaikan di annual report, itu Rp70 triliun, dengan laba bersih kisarannya di Rp1,4 triliun sampai Rp1,5 triliun,” kata Direktur Keuangan PT Hartadinata Abadi Tbk Ong Deny saat menjawab pertanyaan wartawan dalam Public Expose yang digelar usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Rabu (3/6).

Tahun lalu, emiten manufaktur perhiasan emas dan emas batangan yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp44,55 triliun dan laba bersih Rp978,49 miliar.

Dengan target tersebut, pendapatan HRTA berpotensi tumbuh sekitar 57,13% dibandingkan realisasi tahun 2025. Sementara itu, laba bersih diperkirakan meningkat antara 43,08% hingga 53,30%.

Pada 2025, pendapatan HRTA tumbuh 44,39% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp30,86 triliun pada 2024. Adapun laba bersih meningkat 121,29% dari Rp442,18 miliar pada 2024.

Baca Juga :   Antam Tetap Mampu Bukukan Laba Rp 3,85 T di 2024, Walau Harga Emas Berfluktuasi

Dari sisi volume, Ong menambahkan HRTA menargetkan produksi dan penjualan emas sebanyak 25 ton hingga 28 ton pada tahun ini. Target tersebut meningkat signifikan dibandingkan volume penjualan 7,83 ton pada 2025.

Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk Sandra Sunanto mengatakan harga emas saat ini memang sedang mengalami koreksi. Namun, kondisi yang ia sebut sebagai fase recovery pricing atau pemulihan harga justru dipandang sebagai perkembangan yang positif.

Menurut Sandra, pola recovery pricing yang terjadi saat ini relatif lebih stabil dan tidak bergerak naik-turun secara ekstrem seperti roller coaster pada periode-periode sebelumnya. Dalam kondisi yang lebih stabil tersebut, permintaan terhadap emas, baik emas batangan maupun perhiasan, kembali muncul.

“Kita tetap optimis dengan kinerja HRTA akan tumbuh lebih baik lagi di 2026, terlepas dari memang harga emas dunia yang sekarang saat ini sedang recovery,” ujarnya.

Ia mengatakan hingga akhir tahun ini, berdasarkan perkiraan para analis, harga emas dunia diperkirakan bergerak pada kisaran US$4.200 hingga US$5.400 per troy ounce.

Baca Juga :   Harga Emas Batangan Kembali Naik Pagi Ini

Meski demikian, Sandra mengingatkan bahwa faktor lain yang perlu dicermati adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Karena perlu saya ingatkan bahwa harga emas di Indonesia juga sangat tergantung bukan hanya pada gold spot atau harga emas dunia tapi juga pada kurs rupiah kita terhadap USD,” ujarnya.

Menurut Sandra, pelemahan nilai tukar rupiah memang dapat menekan daya beli masyarakat. Namun, di sisi lain, kondisi ketidakpastian ekonomi justru mendorong peningkatan minat masyarakat untuk menabung maupun berinvestasi dalam bentuk emas.

“Yang kita perhatikan, saat ini adalah semakin tidak terprediksinya kondisi ekonomi ke depan, maka masyarakat itu semakin punya minat yang jauh lebih tinggi bahwa dia harus mulai menyimpan tabungannya sebagian besar dalam bentuk emas,” ujarnya.

Sandra mengakui permintaan terhadap emas bersifat fluktuatif dan dapat mengalami kenaikan maupun penurunan pada periode tertentu. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, strategi perseroan difokuskan pada penyediaan produk emas yang terjangkau bagi berbagai lapisan masyarakat.

Selain itu, perusahaan juga mengandalkan strategi penetapan harga yang kompetitif. Menurutnya, HRTA saat ini menawarkan selisih harga jual dan beli (spread) yang menarik untuk produk-produknya. Strategi tersebut membuat masyarakat memandang produk emas HRTA, khususnya emas batangan melalui merek Emasku, sebagai salah satu instrumen penyimpanan nilai maupun investasi yang aman dan menguntungkan.

Baca Juga :   Harga Emas Batangan Masih Terkoreksi, Semakin Menjauhi Rp3 Juta per Gram

Selain ditopang permintaan ritel, bisnis emas perseroan juga didukung oleh peningkatan permintaan dari pelanggan institusi yang diperkirakan akan tumbuh seiring perubahan regulasi di sektor keuangan.

“Apabila kita mencermati beberapa regulasi yang akan dikeluarkan, itu terutama terkait dengan ETF gold, ini pun juga akan semakin meningkatkan partisipasi dari permintaan untuk institusi yang ada di domestik. Dan ini pun juga merupakan untuk suatu hal yang positif, sebenarnya bagi pertumbuhan untuk di bisnis perseroan sendiri hingga di akhir tahun 2026,” kata Corporate & Investor Relation Vice President HRTA, Thendra Chrisnanda.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics