Dari Penindakan ke Pencegahan: Memperkuat Tata Kelola Pemerintahan di Tengah Kasus Korupsi
Dr. Dodi Sugianto, S.H., M.H., M.Kn. /Foto: Dok.Pribadi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu flagship program yang visioner, dirancang untuk mengatasi masalah stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis desa.
Namun, kasus-kasus penegakan hukum terkini menunjukkan bahwa tantangan korupsi masih menjadi bayang-bayang yang harus diatasi secara sistemik.
Baru-baru ini, Kejaksaan Agung telah menetapkan dan menahan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana beserta dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, atas dugaan tindak pidana korupsi dalam tata kelola program MBG tahun 2025-2026.
Dugaan penyimpangan mencakup mark-up pengadaan barang dan jasa, penunjukan mitra yang tidak sesuai prosedur, serta potensi kerugian negara yang signifikan.
Hanya berselang sehari, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menetapkan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Wamen Imipas) Silmy Karim sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan terkait pengurusan dokumen imigrasi bagi warga negara asing, dengan modus yang melibatkan aliran dana tidak wajar.
Saya memahami bahwa tindakan penegakan hukum ini merupakan manifestasi dari prinsip zero tolerance terhadap korupsi sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).
Unsur-unsur pidana yang terlibat, seperti perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan wewenang (Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor), serta unsur kesengajaan yang menyebabkan kerugian keuangan negara, harus dibuktikan secara cermat melalui proses peradilan yang adil.
Penanganan cepat oleh Kejagung dan KPK, termasuk penggeledahan dan penahanan, menunjukkan komitmen penegak hukum yang tinggi.
Pemerintah pusat pun telah merespons dengan cepat melalui evaluasi dan pencopotan pejabat terkait, yang mencerminkan political will yang kuat untuk menjaga integritas program nasional.
Perbaikan Berkelanjutan
Dalam analisis saya terhadap perkembangan pemerintahan Prabowo hingga saat ini, saya melihat adanya kemajuan yang patut diapresiasi. Presiden Prabowo telah menunjukkan kepemimpinan yang tegas dalam mendorong program-program strategis yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat, seperti MBG yang memiliki anggaran besar dan dampak luas.
Keberanian untuk mendukung penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap oknum di internal pemerintahan adalah langkah maju yang membangun kepercayaan publik. Ini bukan sekadar respons reaktif, melainkan bagian dari upaya reformasi birokrasi yang lebih luas, termasuk percepatan digitalisasi pelayanan publik dan penguatan akuntabilitas lembaga negara.
Namun, sebagai akademisi yang senantiasa mendorong perbaikan berkelanjutan, saya berpendapat bahwa masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperkuat agar momentum positif ini tidak terganggu.
Pertama, penguatan sistem pencegahan harus menjadi prioritas utama. Meskipun penindakan sudah berjalan baik, pencegahan melalui digitalisasi penuh proses pengadaan barang/jasa (e-procurement terintegrasi dengan AI untuk deteksi dini anomali), audit internal yang independen dan rutin, serta penerapan teknologi blockchain untuk transparansi rantai pasok program seperti MBG, akan sangat membantu meminimalisir celah korupsi sejak awal.
Kedua, pengawasan berlapis yang efektif tanpa menimbulkan birokrasi berlebih. Kolaborasi antara KPK, BPK, Inspektorat Jenderal, dan lembaga pengawas internal kementerian perlu dioptimalkan dengan protokol yang jelas. Rotasi jabatan di posisi strategis yang mengelola anggaran besar, disertai dengan penilaian integritas yang ketat, dapat menjadi best practice yang diterapkan secara konsisten.
Ketiga, pengembangan sumber daya manusia aparatur negara melalui pendidikan dan pelatihan anti-korupsi yang berkelanjutan, termasuk integrasi kurikulum etika publik di berbagai tingkatan birokrasi. Penegakan kode etik dan perlindungan bagi whistleblower juga harus diperkuat agar aparatur yang jujur merasa aman melaporkan penyimpangan.
Keempat, peningkatan transparansi publik dengan mekanisme pelaporan keuangan program secara berkala dan mudah diakses masyarakat. Hal ini akan membangun partisipasi publik sebagai bagian dari kontrol sosial, sekaligus memperkuat legitimasi program pemerintah.
Saya yakin bahwa pemerintahan Prabowo telah memberikan yang terbaik bagi bangsa ini melalui visi kepemimpinan yang kuat dan komitmen terhadap pembangunan. Kekurangan yang ada bukanlah kegagalan, melainkan peluang untuk maturing governance di sebuah negara sebesar Indonesia.
Dengan terus memperbaiki aspek-aspek sistemik tersebut melalui pendekatan kolaboratif antara pemerintah, penegak hukum, akademisi, dan masyarakat sipil, kita dapat memastikan bahwa program-program unggulan seperti MBG akan berjalan semakin efektif, bebas dari intervensi oknum, dan benar-benar mewujudkan kesejahteraan rakyat menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai penutup, perjuangan memberantas korupsi adalah maraton, bukan sprint. Penegakan hukum terkini harus dijadikan momentum untuk reformasi yang lebih dalam. Mari kita dukung pemerintah dengan semangat konstruktif, sambil bersama-sama menjaga agar integritas dan akuntabilitas menjadi fondasi utama pembangunan nasional.